Bahasa Gaul Saham Ala Milenial

Bahasa gaul saham kerap di indentikan dengan percakapan atau slang word antar trader yang membuat para trader lebih mudah menangkap maksud dalam trading. Bagi investor atau trader saham yang mengikuti berbagai forum saham di grup WhatsApp, Telegram, Instagram atau Facebook, berbagai ekspresi seperti itu tidak jarang kita temui.

Ekspresi tersebut merupakan slang words atau bahasa gaul saham dalam investasi saham di Indonesia. Tentu saja, berbagai istilah itu bukan istilah resmi dari Bursa Efek Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan.

Kendati demikian, berbagai istilah “jalanan” itu memudahkan masyarakat memahami investasi atau trading saham. Bahasa adalah suatu kesepakatan di antara penggunanya di sebuah komunitas.

Bukan hanya di Indonesia, slang words juga ada di kalangan investor saham di Amerika Serikat. Dog, misalnya. Dalam bahasa Inggris, dog dikenal dengan arti binatang anjing.

Namun, di kalangan investor/trader saham di AS, dog berarti saham yang berkinerja buruk (a chronic underperforming stock).

Ada juga istilah “Dogs of The Dow” yang merujuk kepada sebuah strategi investasi jangka panjang dengan menggunakan 10 saham blue chip yang memberikan dividen tertinggi di Dow Jones Industrial Average (DJIA).

Nah, apa saja bahasa gaul saham yang biasa dipakai investor atau trader saham di Indonesia? Berikut ini rangkumannya yang disusun secara alfabetis:

Bandar

Istilah bandar sebenarnya lebih sering digunakan oleh media massa untuk mendeskripsikan penjual narkotika dan obat-obatan terlarang dalam jumlah besar. Selain itu, bandar juga kerap diasosiasikan dalam praktek perjudian.

Di pasar saham, bandar kerap diartikan sebagai pihak yang memiliki modal besar dan dianggap mampu menggerakkan sebuah harga saham. Bandar juga sering disebut dengan istilah market maker.

Siapakah bandar itu? Tentu saja, tidak ada yang mengaku di depan umum secara terbuka sebagai bandar saham. Namun, mengutip penjelasan dari mantan Direktur BEI Hamdi Hassyarbaini, ada banyak pihak yang berkepentingan untuk menggerakkan harga saham.

Mereka antara lain manajer investasi, pengurus dana pensiun, emiten, dan pihak-pihak lainnya. Berbagai pihak itu memiliki kepentingan masing-masing yang berbeda.

Boncos

Boncos bukanlah bahasa baku yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Boncos tidak jarang digunakan oleh para investor atau trader ketika mengalami kerugian atau menjual saham di bawah harga belinya.

Boncos sering kali dikaitkan dengan aksi cut loss. Boncos adalah antonim dari cuan atau aksi menjual saham di atas harga belinya.
Cuan

Sama seperti boncos, cuan bukan kata yang terdapat di KBBI namun seringkali dipakai oleh investor atau trader ketika mendapatkan keuntungan dari berinvestasi saham. Cuan juga tidak hanya dipakai untuk menjelaskan keuntungan dalam investasi saham tapi juga investasi secara umum.

Dalam bahasa Inggris, cuan sering dikaitkan dengan aksi taking profit (TP) atau aksi menjual saham di atas harga belinya. Dalam batin para investor atau trader secara umum, cuan adalah motif utama ketika berinvestasi atau berbisnis.
Gorengan

Pada dasarnya, gorengan adalah istilah yang sering dipakai dalam dunia kuliner yang merujuk kepada sebuah makanan yang cara memasaknya dengan cara digoreng. Namun, istilah itu kini terlanjur populer di kalangan investor/trader saham.

Gorengan atau saham gorengan sering dipahami sebagai saham yang volume dan nilai transaksi hariannya tidak wajar, tidak normal atau di luar kebiasaan. Berbagai pihak juga berpendapat saham gorengan sebagai saham yang pergerakan harganya tidak mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.

BEI bukannya tinggal diam dalam menghadapi saham yang pergerakannya tidak wajar. Otoritas bursa memiliki mekanisme bernama Unusual Market Activity (UMA) untuk memantau saham-saham yang pergerakannya tidak wajar.

Istilah saham gorengan kian populer setelah Presiden Joko Widodo setelah menyebut praktik “goreng-gorengan saham” ketika membuka perdagangan BEI pada awal Januari 2020.
Hajar Kanan (HAKA)

Secara umum, hajar kanan dipahami sebagai sebuah strategi membeli saham dengan memasang harga tinggi di kolom offer (antrian jual) supaya segera mendapatkan saham yang diinginkan.

Maklum, ketika hendak memiliki sebuah saham, kita belum tentu bisa mendapatkannya. Kenapa? Hal itu tergantung dari harga yang kita patok ketika hendak membeli saham.

Misalnya, harga saham BBCA berada di level Rp28.175. Untuk segera bisa mendapatkan saham BBCA, kita belum tentu bisa mendapatkannya di harga Rp28.150. Oleh karena itu, kita bisa “hajar kanan” dengan membeli di harga Rp28.175, Rp28.200 dan seterusnya.

Pada umumnya, tujuan dari hajar kanan ini adalah menghindari antrian ketika hendak membeli sebuah saham.

Hajar Kiri (HAKI)

Kebalikannya dari hajar kanan, hajar kiri dipahami sebagai sebuah strategi menjual saham dengan memasang harga rendah di kolom bid (antrian beli) supaya sahamnya segera terjual.

Published
Categorized as SAHAM